1,5 th yg
lalu ada seorang laki-laki yang mendekati aku, sebenernya di awal aku sudah
tidak tertarik lagi dengan seorang laki-laki yang mungkin berniat melakukan
pendekatan.
Karena aku pernah
disakiti oleh laki-laki, status pacaran 6th tapi aku tidak merasakan
kebahagiaan. Aku jalani dengan keterpaksaan. Dan di dalam 6th itu
aku sering menangis karena dikhianati.
Tapi akhirnya aku
mulai bisa percaya dengan seorang laki-laki, dan aku merasa nyaman jika berada
di sampingnya. Tanggal 19 april 2013 hari jadinya aku dan dia. Aku merasa
bahagia ketika dia mencurahkan rasanya di twitter, dia menyayangi aku seperti
sayangnya kepada ibunya sendiri. Dan setiap moment yang membuat dia bahagia
atau khawatir denganku dia tulis di twitter.
Setiap hari aku
bersamanya, makan pagi, dan malam kita selalu sama-sama. Sesekali dan mungkin
hampir setiap hari ada solat yang kita lakukan berjamaah. Nyaris setiap hari
kita tidak pernah berantem atau berdebat. aku membiasakan diri jika ada yang tidak
aku suka darinya aku ucapkan langsung, dan meminta dia berubah secara perlahan.
Mungkin jika dia baca ceritaku ini dia tau perubahan apa saja yang ada pada
dirinya.
Suatu hari aku
sedih dan terpuruk karena keinginan mamah. Dan membuat aku diam dan selalu
menangis. Mungkin dia tidak mau melihat aku seperti itu. Entah bagaimana
ceritanya. Ketika aku pulang kampung. Mamah dan papah cerita dan menjurus
ketidaksukaan terhadap dia. Mamah tidak suka dengan cara dia mengajari mamah di
tlp atau entah di sms. Mungkin bahasanya atau caranya yang kurang halus.
Tapi aku tidak
menerima ketidaksukaan mereka, karena hanya aku yang tau sifat dia sebenarnya.
Aku mencintai kekurangan dan kelebihannya. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa
dia adalah laki-laki yang dewasa dan bertanggung jawab. Aku menceritakan dia
kepada mereka sampai mereka mengerti. Dan akhirnya mereka setuju kembali aku
bersamanya.
Aku terlalu
percaya kepadanya, setiap dia main bersama teman atau sepupunya tidak pernah
sekali pun aku mengganggu.
Yang penting
bagiku kita saling menghargai, saling memberi kabar walaupun Cuma 1 menit. Dan
kita tidak saling mengganggu sampai urusan masing-masing selesai.
Aku sangat
menyayanginya, terkadang ketika aku sedang bersamanya, aku seperti berada di
dekat ayahku sendiri. Setiap hari aku bersyukur karena Tuhan telah mengenalkan
dia kepadaku, yang nyaris tidak pernah membuatku menangis. Selama 1,5 th aku
jalani hubungan bersamanya, mungkin hanya 2x ia membuatku menangis, dan aku
ingat kapan dan karena apa aku menangis. Yang pertama ketika ulu hati aku
kambuh dan di kostan sedang tidak ada cemilan sedikitpun, aku meminta dia untuk
mengantarkan aku beli makan. Tapi dia menolaknya karena sedang ngobrol dengan
sepupunya. Dan yang kedua, sejak tanggal 28 september kemarin hingga detik ini
aku masih menangis.
Memang masalah
ini kecil dan sepele, tapi cara menyikapi permasalahan dia sepertinya sudah
lelah denganku.
Aku sedih dan
kecewa ketika dia lupa waktu, dan lupa akan adanya aku tgl 28 kemarin. Dia
pergi ke kondangan pernikahan temen istri sepupunya. Aku tidak pernah
melarangnya, tapi sekarang berakhir kecewa karena 9 jam aku menunggu pesan
darinya, aku yang sangat khawatir dengan keadaannya, dan ketika ia menjawab,
dia tidak menghiraukan pesan sedihku yang aku harapkan semangat darinya, tapi
dia hanya berucap maaf tadi di ajak ngobrol terus oleh sepupuku.
Sejak dia
mengirim pesan itu aku sedih, dan aku mendiamkannya 1 hari agar dia dapat
memikirkan kesalahannya, dan berharap dia dapat berubah.
Yang tidak aku
sukai darinya dulu sampai sekarang hanya 1, ketika dia sedang bersamaku yang
hanya 2 jam dalam sehari, dia mampu membalas pesan teman dan keluarganya. Tapi
kenapa ketika ia sedang bersama teman atau keluarganya terkadang dia melupakan
aku.
Setelah aku
diamkan dia 1hari itu, ke esokannya dia bertanya padaku, apa yang aku mau?
Dan dia hanya
bertanya seperti itu, padahal aku mengaharapkan dia menjelaskan kemana saja
selama 9jam kemarin yang telah membuatku begitu khawatir dan mengarapkan dia
berucap maaf dan berjanji akan berubah.
Aku marah dan aku
kecewa kepadanya, mungkin marahku waktu itu tidak sepertinya dan menjadi tidak
wajar, karena aku berfikir dia lupakan aku karena tertarik kepada teman istri
sepupunya yang masih seumuran denganku.
Aku berubah menjadi
bukan diriku sebenarnya, menjadi seseorang yang memposting kekesalan di path.
Dan entahlah,
mungkin karena itu sepupunya merasa aku menjelek-jelekannya, yang sebenarnya
aku tidak bermaksud seperti itu.
Aku menjawab
pesannya waktu itu masih dengan keadaan marah, aku bertanya padanya, jika dia
berada di posisiku, bagaimana perasaanya. Dan aku bertanya, apakah kita
pantasnya berubah menjadi pertemanan saja, dan tidak menggunakan embel-embel
status pacar, jika dia masih tidak menganggapku. Tapi dia hanya menjawab “ya ya
ya jika ini maumu”.
Aku sedih dengan
perubahannya, dan aku tidak tau kesalahanku ada dimana. Ketika itu kita seperti
bernegosiasi, aku bertanya apa salahku. Dan dia mengatakan apa penyebab dia
berubah, dia tidak menyukai usahaku sekarang, dia mengira usaha sekarang
ini adalah pekerjaan tetap. Padahal aku tidak pernah berucap bahwa usahaku
sekarang ini pekerjaan tetap.
Dia merasa
sia-sia melihatku menyelesaikan kuliah sampai sarjana tapi berakhir membuka
usaha. Padahal itu salah besar, aku hanya mengisi kekosongan waktu dimana aku
sedang menunggu panggilan kerja. Dan tidak ada salahnya aku membantu orang
tuaku membuka usaha kecil-kecilan.
Aku merindukan
kamu yang dulu, aku merindukan kamu yang selalu prihatin, aku merindukan
perjuanganmu lagi. Kenapa sekarang hanya aku yang berjuang. Apa karena kamu
lebih menghargai perasaan sepupu kamu di bandingkan perasaan aku yang sakitnya
bagaikan orang yang ditarik ulur kematian.
Apakah kamu tidak
mempedulikan perasaan aku sekarang ini?
Maafkan aku jika
aku seperti menjelek-jelekan sepupumu, aku tidak membencinya, aku senang kamu
memiliki sepupu yang baik dan peduli kepadamu. Aku mengerti, mungkin sekarang
kamu sedang lupa dengan keprihatinan yang dulu kita lalui bersama. Mungkin
ketika kita menjadi LDR, kamu sering makan enak jika main bersama sepupumu itu.
Dan aku berucap bukan tanpa alasan, tapi sesuai dengan apa yang aku rasa. Aku
merasakan perubahan kamu kemarin ketika aku test bank bca di semarang. Ketika
masih di purwokerto, kamu mengajak aku makan di tempat yang mahal, dan kamu
menceritakan enaknya tempat itu karena kemarin baru saja makan bersama sepupu
kamu itu. Dan di semarangpun caramu membeli makanan tidak seperti dulu. Tapi
entahlah mungkin aku salah persepsi dengan ini.
Karena ucapanku
seperti itu kamu berucap ketidaksukaan karena aku menjelek-jelekan sepupu kamu,
kenapa kamu tidak berucap bahwa persepsiku salah saja?
Kenapa kamu
sakiti aku? Aku yang sangat menyayangimu, aku yang selalu memperjuangkan kamu.
Kenapa kamu
berubah begitu cepat?
Apakah ada yang
memberikan nasehat kepadamu agar kamu melupakan aku?
Apakah orang yang
memberimu nasehat itu mengerti aku? Kenal dekat denganku? Tau sifatku? Dan
apakah aku pernah melukai hatinya karena disengaja? Apakah dia mengerti
perasaanku?
Lihatlah aku yang
tidak terima ketidaksukaan orang tuaku sendiri kepadamu, dan aku memperjuangkan
kamu sampai mereka akhirnya menyayangimu dan menganggapmu seperti anak sendiri.
Lihatlah aku yang
tidak pernah marah ketika kamu kesal kepada orang tuaku sendiri yang pada saat
itu membuatku sedih, aku hanya berkata “sudah, kamu jangan ikut kesal, biarkan
saja”
Tapi ketika aku
merasa kecewa kemarin dengan status sepupu bagi kamu, kamu menjawab “itu
sepupuku, dia tau aku, dan aku tumbuh besar di dalam keluarga, aku tidak suka
kamu menjelek-jelekannya”
Aku memang bukan
siapa-siapa bagi kamu, tapi aku calon istrimu, kelak kita akan menghabiskan
waktu bersama. Melewati senang dan susah bersama. Aku hanya meminta kamu
menghargai aku. Ingatlah waktu dimana kamu mulai mencintai aku, ingatlah waktu
dimana kamu berkata akan selalu memperjuangkan aku bagaimanapun caranya,
ingatlah waktu dimana kamu berkata menyayangi aku sama seperti menyayangi ibumu
sendiri.
Ketika aku lelah
dengan kekuranganmu yang tak kunjung berubah, aku hanya bisa memikirkan
kelebihanmu, agar aku tidak berhenti mencintaimu. Tapi entahlah, kenapa kamu
begitu cepat ingin melupakanku.
Kenapa kamu hadir
dalam hidupku jika akhirnya akan seperti ini. sekarang kamu seperti orang yang
tidak mengenaliku, orang yang tidak mempedulikan aku, padahal kemarin di hari
raya itu aku mempertaruhkan nyawa karena sakit yang aku derita. Dan aku
melupakan sakitku untuk pergi ke bank BRI hari ini, hanya untuk membuktikan
padamu bahwa aku disini mencari pekerjaan, tidak hanya diam.
Sudah 11 hari aku
menangis, aku berharap ketika aku melangkah tadi, aku tidak lagi mengeluarkan
air mata. Tapi ketika tadi aku akan ditempatkan di wilayah kantor cabang lain,
bapa itu bertanya aku punya pacar atau tidak, dan aku menjawab baru putus. Lalu
bapa itu bertanya lagi alasan kenapa putus, aku menangis dihadapannya, aku
menangis kencang sampai aku pulang dan menuruni 3 anak tangga. Sebesar inikah
aku mencintai dan menyayangi kamu sampai air mataku tidak pernah kering?
Tapi aku
mencintai dan menyayangi laki-laki yang sekarang sudah melupakan aku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar