Kamis, 09 Oktober 2014

What do you want from me?


1,5 th  yg lalu ada seorang laki-laki yang mendekati aku, sebenernya di awal aku sudah tidak tertarik lagi dengan seorang laki-laki yang mungkin berniat melakukan pendekatan.
Karena aku pernah disakiti oleh laki-laki, status pacaran 6th tapi aku tidak merasakan kebahagiaan. Aku jalani dengan keterpaksaan. Dan di dalam 6th itu aku sering menangis karena dikhianati.
Tapi akhirnya aku mulai bisa percaya dengan seorang laki-laki, dan aku merasa nyaman jika berada di sampingnya. Tanggal 19 april 2013 hari jadinya aku dan dia. Aku merasa bahagia ketika dia mencurahkan rasanya di twitter, dia menyayangi aku seperti sayangnya kepada ibunya sendiri. Dan setiap moment yang membuat dia bahagia atau khawatir denganku dia tulis di twitter.
Setiap hari aku bersamanya, makan pagi, dan malam kita selalu sama-sama. Sesekali dan mungkin hampir setiap hari ada solat yang kita lakukan berjamaah. Nyaris setiap hari kita tidak pernah berantem atau berdebat. aku membiasakan diri jika ada yang tidak aku suka darinya aku ucapkan langsung, dan meminta dia berubah secara perlahan. Mungkin jika dia baca ceritaku ini dia tau perubahan apa saja yang ada pada dirinya.
Suatu hari aku sedih dan terpuruk karena keinginan mamah. Dan membuat aku diam dan selalu menangis. Mungkin dia tidak mau melihat aku seperti itu. Entah bagaimana ceritanya. Ketika aku pulang kampung. Mamah dan papah cerita dan menjurus ketidaksukaan terhadap dia. Mamah tidak suka dengan cara dia mengajari mamah di tlp atau entah di sms. Mungkin bahasanya atau caranya yang kurang halus.
Tapi aku tidak menerima ketidaksukaan mereka, karena hanya aku yang tau sifat dia sebenarnya. Aku mencintai kekurangan dan kelebihannya. Aku menjelaskan kepada mereka bahwa dia adalah laki-laki yang dewasa dan bertanggung jawab. Aku menceritakan dia kepada mereka sampai mereka mengerti. Dan akhirnya mereka setuju kembali aku bersamanya.
Aku terlalu percaya kepadanya, setiap dia main bersama teman atau sepupunya tidak pernah sekali pun aku mengganggu.
Yang penting bagiku kita saling menghargai, saling memberi kabar walaupun Cuma 1 menit. Dan kita tidak saling mengganggu sampai urusan masing-masing selesai.
Aku sangat menyayanginya, terkadang ketika aku sedang bersamanya, aku seperti berada di dekat ayahku sendiri. Setiap hari aku bersyukur karena Tuhan telah mengenalkan dia kepadaku, yang nyaris tidak pernah membuatku menangis. Selama 1,5 th aku jalani hubungan bersamanya, mungkin hanya 2x ia membuatku menangis, dan aku ingat kapan dan karena apa aku menangis. Yang pertama ketika ulu hati aku kambuh dan di kostan sedang tidak ada cemilan sedikitpun, aku meminta dia untuk mengantarkan aku beli makan. Tapi dia menolaknya karena sedang ngobrol dengan sepupunya. Dan yang kedua, sejak tanggal 28 september kemarin hingga detik ini aku masih menangis.
Memang masalah ini kecil dan sepele, tapi cara menyikapi permasalahan dia sepertinya sudah lelah denganku.
Aku sedih dan kecewa ketika dia lupa waktu, dan lupa akan adanya aku tgl 28 kemarin. Dia pergi ke kondangan pernikahan temen istri sepupunya. Aku tidak pernah melarangnya, tapi sekarang berakhir kecewa karena 9 jam aku menunggu pesan darinya, aku yang sangat khawatir dengan keadaannya, dan ketika ia menjawab, dia tidak menghiraukan pesan sedihku yang aku harapkan semangat darinya, tapi dia hanya berucap maaf tadi di ajak ngobrol terus oleh sepupuku.
Sejak dia mengirim pesan itu aku sedih, dan aku mendiamkannya 1 hari agar dia dapat memikirkan kesalahannya, dan berharap dia dapat berubah.
Yang tidak aku sukai darinya dulu sampai sekarang hanya 1, ketika dia sedang bersamaku yang hanya 2 jam dalam sehari, dia mampu membalas pesan teman dan keluarganya. Tapi kenapa ketika ia sedang bersama teman atau keluarganya terkadang dia melupakan aku.
Setelah aku diamkan dia 1hari itu, ke esokannya dia bertanya padaku, apa yang aku mau?
Dan dia hanya bertanya seperti itu, padahal aku mengaharapkan dia menjelaskan kemana saja selama 9jam kemarin yang telah membuatku begitu khawatir dan mengarapkan dia berucap maaf dan berjanji akan berubah.
Aku marah dan aku kecewa kepadanya, mungkin marahku waktu itu tidak sepertinya dan menjadi tidak wajar, karena aku berfikir dia lupakan aku karena tertarik kepada teman istri sepupunya yang masih seumuran denganku.
Aku berubah menjadi bukan diriku sebenarnya, menjadi seseorang yang memposting kekesalan di path.
Dan entahlah, mungkin karena itu sepupunya merasa aku menjelek-jelekannya, yang sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu.
Aku menjawab pesannya waktu itu masih dengan keadaan marah, aku bertanya padanya, jika dia berada di posisiku, bagaimana perasaanya. Dan aku bertanya, apakah kita pantasnya berubah menjadi pertemanan saja, dan tidak menggunakan embel-embel status pacar, jika dia masih tidak menganggapku. Tapi dia hanya menjawab “ya ya ya jika ini maumu”.
Aku sedih dengan perubahannya, dan aku tidak tau kesalahanku ada dimana. Ketika itu kita seperti bernegosiasi, aku bertanya apa salahku. Dan dia mengatakan apa penyebab dia berubah, dia tidak menyukai usahaku sekarang, dia mengira usaha  sekarang ini adalah pekerjaan tetap. Padahal aku tidak pernah berucap bahwa usahaku sekarang ini pekerjaan tetap.
Dia merasa sia-sia melihatku menyelesaikan kuliah sampai sarjana tapi berakhir membuka usaha. Padahal itu salah besar, aku hanya mengisi kekosongan waktu dimana aku sedang menunggu panggilan kerja. Dan tidak ada salahnya aku membantu orang tuaku membuka usaha kecil-kecilan.
Aku merindukan kamu yang dulu, aku merindukan kamu yang selalu prihatin, aku merindukan perjuanganmu lagi. Kenapa sekarang hanya aku yang berjuang. Apa karena kamu lebih menghargai perasaan sepupu kamu di bandingkan perasaan aku yang sakitnya bagaikan orang yang ditarik ulur kematian.
Apakah kamu tidak mempedulikan perasaan aku sekarang ini?
Maafkan aku jika aku seperti menjelek-jelekan sepupumu, aku tidak membencinya, aku senang kamu memiliki sepupu yang baik dan peduli kepadamu. Aku mengerti, mungkin sekarang kamu sedang lupa dengan keprihatinan yang dulu kita lalui bersama. Mungkin ketika kita menjadi LDR, kamu sering makan enak jika main bersama sepupumu itu. Dan aku berucap bukan tanpa alasan, tapi sesuai dengan apa yang aku rasa. Aku merasakan perubahan kamu kemarin ketika aku test bank bca di semarang. Ketika masih di purwokerto, kamu mengajak aku makan di tempat yang mahal, dan kamu menceritakan enaknya tempat itu karena kemarin baru saja makan bersama sepupu kamu itu. Dan di semarangpun caramu membeli makanan tidak seperti dulu. Tapi entahlah mungkin aku salah persepsi dengan ini.
Karena ucapanku seperti itu kamu berucap ketidaksukaan karena aku menjelek-jelekan sepupu kamu, kenapa kamu tidak berucap bahwa persepsiku salah saja?
Kenapa kamu sakiti aku? Aku yang sangat menyayangimu, aku yang selalu memperjuangkan kamu.
Kenapa kamu berubah begitu cepat?
Apakah ada yang memberikan nasehat kepadamu agar kamu melupakan aku?
Apakah orang yang memberimu nasehat itu mengerti aku? Kenal dekat denganku? Tau sifatku? Dan apakah aku pernah melukai hatinya karena disengaja? Apakah dia mengerti perasaanku?
Lihatlah aku yang tidak terima ketidaksukaan orang tuaku sendiri kepadamu, dan aku memperjuangkan kamu sampai mereka akhirnya menyayangimu dan menganggapmu seperti anak sendiri.
Lihatlah aku yang tidak pernah marah ketika kamu kesal kepada orang tuaku sendiri yang pada saat itu membuatku sedih, aku hanya berkata “sudah, kamu jangan ikut kesal, biarkan saja”
Tapi ketika aku merasa kecewa kemarin dengan status sepupu bagi kamu, kamu menjawab “itu sepupuku, dia tau aku, dan aku tumbuh besar di dalam keluarga, aku tidak suka kamu menjelek-jelekannya”
Aku memang bukan siapa-siapa bagi kamu, tapi aku calon istrimu, kelak kita akan menghabiskan waktu bersama. Melewati senang dan susah bersama. Aku hanya meminta kamu menghargai aku. Ingatlah waktu dimana kamu mulai mencintai aku, ingatlah waktu dimana kamu berkata akan selalu memperjuangkan aku bagaimanapun caranya, ingatlah waktu dimana kamu berkata menyayangi aku sama seperti menyayangi ibumu sendiri.
Ketika aku lelah dengan kekuranganmu yang tak kunjung berubah, aku hanya bisa memikirkan kelebihanmu, agar aku tidak berhenti mencintaimu. Tapi entahlah, kenapa kamu begitu cepat ingin melupakanku.
Kenapa kamu hadir dalam hidupku jika akhirnya akan seperti ini. sekarang kamu seperti orang yang tidak mengenaliku, orang yang tidak mempedulikan aku, padahal kemarin di hari raya itu aku mempertaruhkan nyawa karena sakit yang aku derita. Dan aku melupakan sakitku untuk pergi ke bank BRI hari ini, hanya untuk membuktikan padamu bahwa aku disini mencari pekerjaan, tidak hanya diam.
Sudah 11 hari aku menangis, aku berharap ketika aku melangkah tadi, aku tidak lagi mengeluarkan air mata. Tapi ketika tadi aku akan ditempatkan di wilayah kantor cabang lain, bapa itu bertanya aku punya pacar atau tidak, dan aku menjawab baru putus. Lalu bapa itu bertanya lagi alasan kenapa putus, aku menangis dihadapannya, aku menangis kencang sampai aku pulang dan menuruni 3 anak tangga. Sebesar inikah aku mencintai dan menyayangi kamu sampai air mataku tidak pernah kering?
Tapi aku mencintai dan menyayangi laki-laki yang sekarang sudah melupakan aku.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar