Tasikmalaya, 11 okt 2014
00:45
Aku tidak pernah berniat
untuk mengakhiri hubungan dengannya, hanya saja kemarin aku menanyakan apakah
kita pantasnya sebagai teman karena dia melupakan waktunya untukku. Aku kemarin
emosi, marah dan kecewa karenanya, dan aku berubah menjadi bukan aku
sebenarnya.
Aku mengutarakan kesedihan yang tidak seperti biasanya aku
meluapkannya di media sosial. Dan bukan aku sebenarnya yang mencari tau
keadaanya melalui temannya.
Maaf kan aku yang membuatmu tidak suka dengan aku sekarang,
aku seperti ini karena sakit yang sekarang aku alami, hanya itu.
Karena aku terlalu menyayangimu, aku menjadi seperti ini.
Hari ini aku memintamu penjelasan tentang banyak factor yang
membuatmu berubah. Tapi aku tidak mengerti maksudmu, karena aku merasa tidak
seperti itu. Katamu aku susah untuk di ajak baik, aku tidak mengerti apa yang
kamu maksud, aku selalu mencerna setiap perkataanmu, sempat aku memahami apa
maksudmu kemarin, kamu kesal karena aku plin-plan ketika aku memutuskan iya
atau tidak untuk mengikuti test bank bca di semarang, jujur saja itu bukan
plin-plan, tapi karena aku memikirkan banyak hal, jika aku berangkat ke
semarang pasti akan ada banyak uang yang harus dikeluarkan, dan aku juga berhak
meminta izin dari orang tua. Sebenarnya orang tua aku tidak menyetujui test itu
karena semarang cukup jauh dari tempat tinggalku. Tapi aku meyakinkan mereka
agar aku bisa pergi kesana, aku hanya ingin bersamamu lagi, melewati skripsimu
denganku. Seperti dulu aku melewati skripsi denganmu. Aku ingin seperti dulu
lagi kita selalu bersama, melewati susah dan senang bersama.
Ketika aku bertanya kepadanya tentang alasannya yang kedua,
dia menjawab karena orang tua, ridho orang tua adalah ridho Alloh. Dan aku
merasa kaget dan seperti jatuh seketika, ada apa dengan orang tuanya? Ketika
awal hubungan dengannya, ibunya pernah melihat fotoku di hp miliknya, dan dia
menceritakan tentang aku, dan ibunya setuju saja.
Ternyata ibunya tidak setuju dia menikah dengan aku yang
berasal dari suku sunda. Entahlah, begitu sakit ketika aku membaca pernyataan
itu.
Aku kecewa, tetapi aku harus menghargai keputusan seorang ibu
pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Kenapa keputusan itu tidak sejak dulu, sebelum aku terlalu
menyayanginya seperti sekarang ini. apakah salahku ini menjadi suku sunda?
Apakah kamu tidak mau memperjuangkan aku? Seperti aku yang
begitu memperjuangkan kamu ketika aku menjelaskan kebaikanmu kepada orang tuaku
hingga akhirnya mereka menyayangimu seperti anak sendiri?
Mungkin jika ibumu mempunyai alasan kuat kenapa salahku
sebagai suku sunda ini, aku akan ikhlas belajar melupakanmu.
Sekarang aku mungkin memang harus melupakanmu, tapi masih
dengan bayang-bayang pertanyaan apa salahku.
Aku berharap alasan-alasannya itu palsu, karena dia berkata
“tunggu kamu kerja dan mapan dengan kerjaan kamu, biar semua bisa kamu lalui
dengan kesibukanmu kerja. Kamu jadi bisa lupakan” perkataan inilah yang
menurutnya jawaban pertanyaan-pertanyaan yang membuatku terbayang-bayang. Aku
benar-benar tidak mengerti maksudnya. Apakah jika nanti aku sudah kerja dan
mapan, dia mau bersamaku lagi?
Jika itu maksudnya, aku akan menunggunya sampai kapanpun.
Tapi jika ternyata memang alasannya benar-benar karena
keinginan ibunya, aku akan berusaha melupakannya, dengan cara apapun. Entahlah
dengan cara yang baik atau buruk.
Tuhan, kenapa rasa sakit kembali datang kepadaku? Kenapa hanya
1,5th saja aku merasakan kebahagiaan? Setiap hari menyebutkan
namanya dalam setiap do’aku, apakah itu masih kurang?
Tuhan, aku masih ingin bersamanya, meskipun aku mempunyai
waktu 30menit/hari bersamanya, itu sangat membuatku bahagia.
Tuhan, jagalah dia ketika dia sudah tak bersamaku lagi, selalu
ingatkan dirinya untuk beribadah kepadamu dan tidak melupakanmu. Karena sudah
tidak ada aku lagi yang akan mengingatkannya solat dan baca Al-Qur’an. Aku
percaya dia mampu menjaga dirinya, dan membahagiakan ibunya.
Sayang,
Maafkan aku jika setiap harinya aku menghubungimu sepertinya
kurang bagimu, aku hanya terlalu percaya kamu disana akan menjaga perasaanku,
dan aku hanya ingin kamu leluasa mengerjakan skripsi yang kamu lalui sekarang.
Karena itu aku hanya membalas pesanmu. Aku berani menghubungimu jika kamu yang
pertama menghubungi aku. Agar kamu tidak merasa terganggu.
Maafkan aku, jika mengunggah ceritaku kemarin membuatmu malu
dan merasa menjelek-jelekan sepupumu lagi, tapi maksudku bukan seperti itu. Aku
hanya ingin kamu selalu terlihat baik dihadapan teman-temanmu maupun
teman-temanku. Bahwa kamu adalah laki-laki yang baik, yang telah membuatku
bahagia selama 1,5th , dan aku hanya ingin mereka tau bahwa aku
terpuruk bukan karena kamu mengkhianati aku, tapi karena ada alasan lain.
Maafkan aku yang selalu membuatmu malu.
Maafkan aku yang selalu membuatmu kesal.
Maafkan aku yang selalu membuatmu marah.
Maafkan aku hari ini, aku tidak se sehat kemarin, karena aku
terlalu sakit kehilanganmu.
Jangan pernah membuang apa yang telah aku berikan untukmu ya,
jaga baik-baik jam tangan hadiah ulang tahun dariku agar kamu tidak lupa waktu
solat, karena esok tidak ada lagi aku yang mengingatkanmu solat. jaga baik-baik
seprai lv kesayanganku agar kamu selalu mimpi indah, karena esok tidak ada lagi
ucapan mimpi indah dariku. jaga baik-baik sepatu hadiah ulang tahun dariku
kemarin agar kamu semangat pergi ke kampus dan sabar menunggu dosen
pembimbingmu, anggap saja aku selalu ada disampingmu menemanimu. jaga baik-baik
sandal hadiah lebaran kemarin dariku agar setiap langkahmu seperti sedang
bersamaku, karena esok setiap langkahmu tidak bersamaku lagi. jaga baik-baik
coffee maker orange agar selalu menemanimu mengerjakan skripsi, tapi jangan
keseringan minum kopi. Kurangi yang manis-manis. Ganti kebiasaan the manis
menjadi es jeruk saja biar lebih sehat. jaga baik-baik celengen hadiah dari aku
dan cillo agar kamu selalu jaga kesehatan, sisihkan uang rokok untuk celengan
itu ya, jangan banyak-banyak merokok, selalu jaga kesehatan ya. ^_^ dan yang
terakhir, aku berharap perasaan sayang dan cintamu padaku pun kamu jaga
baik-baik.
Aku bahagia pernah mengenalmu, dan pernah menjadi bagian dalam
hidupmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar