Jumat, 10 Oktober 2014

maaf

Tasikmalaya, 11 okt 2014
00:45

Aku tidak pernah berniat untuk mengakhiri hubungan dengannya, hanya saja kemarin aku menanyakan apakah kita pantasnya sebagai teman karena dia melupakan waktunya untukku. Aku kemarin emosi, marah dan kecewa karenanya, dan aku berubah menjadi bukan aku sebenarnya.
Aku mengutarakan kesedihan yang tidak seperti biasanya aku meluapkannya di media sosial. Dan bukan aku sebenarnya yang mencari tau keadaanya melalui temannya.
Maaf kan aku yang membuatmu tidak suka dengan aku sekarang, aku seperti ini karena sakit yang sekarang aku alami, hanya itu.
Karena aku terlalu menyayangimu, aku menjadi seperti ini.
Hari ini aku memintamu penjelasan tentang banyak factor yang membuatmu berubah. Tapi aku tidak mengerti maksudmu, karena aku merasa tidak seperti itu. Katamu aku susah untuk di ajak baik, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, aku selalu mencerna setiap perkataanmu, sempat aku memahami apa maksudmu kemarin, kamu kesal karena aku plin-plan ketika aku memutuskan iya atau tidak untuk mengikuti test bank bca di semarang, jujur saja itu bukan plin-plan, tapi karena aku memikirkan banyak hal, jika aku berangkat ke semarang pasti akan ada banyak uang yang harus dikeluarkan, dan aku juga berhak meminta izin dari orang tua. Sebenarnya orang tua aku tidak menyetujui test itu karena semarang cukup jauh dari tempat tinggalku. Tapi aku meyakinkan mereka agar aku bisa pergi kesana, aku hanya ingin bersamamu lagi, melewati skripsimu denganku. Seperti dulu aku melewati skripsi denganmu. Aku ingin seperti dulu lagi kita selalu bersama, melewati susah dan senang bersama.
Ketika aku bertanya kepadanya tentang alasannya yang kedua, dia menjawab karena orang tua, ridho orang tua adalah ridho Alloh. Dan aku merasa kaget dan seperti jatuh seketika, ada apa dengan orang tuanya? Ketika awal hubungan dengannya, ibunya pernah melihat fotoku di hp miliknya, dan dia menceritakan tentang aku, dan ibunya setuju saja.
Ternyata ibunya tidak setuju dia menikah dengan aku yang berasal dari suku sunda. Entahlah, begitu sakit ketika aku membaca pernyataan itu.
Aku kecewa, tetapi aku harus menghargai keputusan seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Kenapa keputusan itu tidak sejak dulu, sebelum aku terlalu menyayanginya seperti sekarang ini. apakah salahku ini menjadi suku sunda?
Apakah kamu tidak mau memperjuangkan aku? Seperti aku yang begitu memperjuangkan kamu ketika aku menjelaskan kebaikanmu kepada orang tuaku hingga akhirnya mereka menyayangimu seperti anak sendiri?
Mungkin jika ibumu mempunyai alasan kuat kenapa salahku sebagai suku sunda ini, aku akan ikhlas belajar melupakanmu.
Sekarang aku mungkin memang harus melupakanmu, tapi masih dengan bayang-bayang pertanyaan apa salahku.
Aku berharap alasan-alasannya itu palsu, karena dia berkata “tunggu kamu kerja dan mapan dengan kerjaan kamu, biar semua bisa kamu lalui dengan kesibukanmu kerja. Kamu jadi bisa lupakan” perkataan inilah yang menurutnya jawaban pertanyaan-pertanyaan yang membuatku terbayang-bayang. Aku benar-benar tidak mengerti maksudnya. Apakah jika nanti aku sudah kerja dan mapan, dia mau bersamaku lagi?
Jika itu maksudnya, aku akan menunggunya sampai kapanpun.
Tapi jika ternyata memang alasannya benar-benar karena keinginan ibunya, aku akan berusaha melupakannya, dengan cara apapun. Entahlah dengan cara yang baik atau buruk.
Tuhan, kenapa rasa sakit kembali datang kepadaku? Kenapa hanya 1,5th saja aku merasakan kebahagiaan? Setiap hari menyebutkan namanya dalam setiap do’aku, apakah itu masih kurang?
Tuhan, aku masih ingin bersamanya, meskipun aku mempunyai waktu 30menit/hari bersamanya, itu sangat membuatku bahagia.
Tuhan, jagalah dia ketika dia sudah tak bersamaku lagi, selalu ingatkan dirinya untuk beribadah kepadamu dan tidak melupakanmu. Karena sudah tidak ada aku lagi yang akan mengingatkannya solat dan baca Al-Qur’an. Aku percaya dia mampu menjaga dirinya, dan membahagiakan ibunya.
Sayang,
Maafkan aku jika setiap harinya aku menghubungimu sepertinya kurang bagimu, aku hanya terlalu percaya kamu disana akan menjaga perasaanku, dan aku hanya ingin kamu leluasa mengerjakan skripsi yang kamu lalui sekarang. Karena itu aku hanya membalas pesanmu. Aku berani menghubungimu jika kamu yang pertama menghubungi aku. Agar kamu tidak merasa terganggu.
Maafkan aku, jika mengunggah ceritaku kemarin membuatmu malu dan merasa menjelek-jelekan sepupumu lagi, tapi maksudku bukan seperti itu. Aku hanya ingin kamu selalu terlihat baik dihadapan teman-temanmu maupun teman-temanku. Bahwa kamu adalah laki-laki yang baik, yang telah membuatku bahagia selama 1,5th , dan aku hanya ingin mereka tau bahwa aku terpuruk bukan karena kamu mengkhianati aku, tapi karena ada alasan lain.
Maafkan aku yang selalu membuatmu malu.
Maafkan aku yang selalu membuatmu kesal.
Maafkan aku yang selalu membuatmu marah.
Maafkan aku hari ini, aku tidak se sehat kemarin, karena aku terlalu sakit kehilanganmu.
Jangan pernah membuang apa yang telah aku berikan untukmu ya, jaga baik-baik jam tangan hadiah ulang tahun dariku agar kamu tidak lupa waktu solat, karena esok tidak ada lagi aku yang mengingatkanmu solat. jaga baik-baik seprai lv kesayanganku agar kamu selalu mimpi indah, karena esok tidak ada lagi ucapan mimpi indah dariku. jaga baik-baik sepatu hadiah ulang tahun dariku kemarin agar kamu semangat pergi ke kampus dan sabar menunggu dosen pembimbingmu, anggap saja aku selalu ada disampingmu menemanimu. jaga baik-baik sandal hadiah lebaran kemarin dariku agar setiap langkahmu seperti sedang bersamaku, karena esok setiap langkahmu tidak bersamaku lagi. jaga baik-baik coffee maker orange agar selalu menemanimu mengerjakan skripsi, tapi jangan keseringan minum kopi. Kurangi yang manis-manis. Ganti kebiasaan the manis menjadi es jeruk saja biar lebih sehat. jaga baik-baik celengen hadiah dari aku dan cillo agar kamu selalu jaga kesehatan, sisihkan uang rokok untuk celengan itu ya, jangan banyak-banyak merokok, selalu jaga kesehatan ya. ^_^ dan yang terakhir, aku berharap perasaan sayang dan cintamu padaku pun kamu jaga baik-baik.
Aku bahagia pernah mengenalmu, dan pernah menjadi bagian dalam hidupmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar